Penghayatan Hukum Islam

Dalam ilmu fiqih di bagian awal sebelum pembahasan bab sesuci/thaharah pasti diuraikan terlebih dahulu mengenai macam-macam hukum dalam Islam, dari wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Semuanya dijelaskan berdasarkan pengertian/definisinya. Perbedaan keempatnya sudah kita ketahui dari kecil, saya sendiri sudah mendapatkannya di Madrasah Diniyah saat saya masih SD. Saya inget betul setiap guru mauapun ustadz akan menyampaikan apa saja beda keempatnya

Wajib: perkara yang jika kita mengerjakannya akan berpahala dan jika meninggalkannya akan berdosa
Sunah: perkara yang jika kita mengerjakannya akan berpahala dan jika meninggalkannya tidak berdosa
Mubah: perkara yang jika kita mengerjakan maupun meninggalkannya tidak berdosa dan tidak berpahala
Makruh: perkara yang jika tinggalkan berpahala dan jika kita lakukan tidak berdosa
Haram: perkara yang jika kita lakukan akan berdosa dan jika tinggalkan akan berpahala

Jelas sekali pengertiannya, tidak ada yang salah jika ada seorang guru menyebutkannya seperti itu. Tapi menurut saya penjelasan hanya berdasarkan definisi itu cocok untuk anak-anak saja. Ketika kita mulai beranjak menuju masa remaja menjelang aqil baligh akan lebih baik jika cara menjelaskannya diubah bukan berhenti pada definisi tapi esensi dari maksud definisi itu sendiri. Pengalaman saya karena dari sejak kecil sampai SMA selalu dijejali definisi kelima hukum itu maka dalam mind set saya sebagaimana orang lain umumnya akan berpikir yang penting mengerjakan yang wajib saja, perkara sunah??? Benar-benar dinomorsekian kan dari prioritas. Kita akan bilang seperti, “ah cuma sunah kok”, itu adalah efek dari pola belajar kita yang sedari kecil diberitahu bahwa sunah tidak berdosa jika ditinggalkan. Ya di situlah penekanan yang kita miliki bukan pada sunah berpahala jika dikerjakan. Pola pikir seperti itu saya miliki sampai dewasa bahkan mungkin sekarang kadang saya masih merasakannya. Menurut saya penjelasan selanjutnya mengenai perkara hukum dalam islam itu harus mulai penekanan lebih dalam. Misal, sunah, jika kita menjalankan ibadah sunah kita akan mendapatkan keutamaan tambahan pahala apalagi sunah-sunah Rasul yang sangat dianjurkan seperti sholat sunah (tahajud, dhuha, rowatib) puasa senin kamis, maupun sedekah tentunya dengan menyampaikan keutamaan-keutamaan ibadah itu jika kita mampu menjaga/istiqomah mengerjakannya. Bahwa kita juga tidak bisa menjamin ibadah kita diterima oleh Allah SWT entah itu ibadah wajib maupun sunah sehingga itu semua akan mengingatkan kita untuk terus rajin  beribadah. Mengenai ibadah wajib sendiri kita juga masih sekedar mengerjakannya hanya sebagai penggugur kewajiban tanpa melihat keutamaan-keutamaannya, misal sholat 5 waktu, kita masih sholat Dhuhur tapi saat jam 14.00, sholat Ashar mendekati waktu Maghrib. Perkara lain yang lebih sering diperdebatkan misalkan merokok, dari dulu saya diajarkan bahwa merokok itu makruh hukumnya, itu dijelaskan oleh ustadz/guru saya seperti yang biasanya tertulis dalam modul belajar, namun ustadz/guru itu sendiri merokok karena mereka pun sebatas tau definisi bahwa makruh itu jika dilakukan tidak berdosa yang pada akhirnya akan membentuk kesan bahwa merokok itu mubah. Orang akan semakin banyak merokok dan ketika kebiasaan merokok mulai mengganggu orang di sekitarnya di tempat umum sementara si perokok sendiri tidak merasa mengganggu dan tidak merasa sedang menyakiti diri sendiri lalu mulai muncul fatwa haram tentang merokok dari MUI. Mereka yang merokok akan membela diri dan kembali pada keyakinan mereka bahwa merokok itu makruh serta beralibi dengan mereka merokok berperan besar pada penghasilan negara dan membuka lapangan kerja bagi orang-orang yang bekerja di perusahaan rokok. Yah memang merokok belum ada pada jaman Rasul sehingga pengambilan hukumnya dari hasil ijtihad para ulama ahli fiqih, namun saya bukan mau berdebat mengenainya tapi lebih pada tingkat pengamalan kita ketika sudah tau hukum suatu perbuatan.

Setelah kita tahu definisi masing-masing masihkah kita akan meninggalkan sholat 5 waktu? Masihkan kita menganggap remeh sholat dhuha? Masihkan kita merokok dan memakan uang hasil korupsi? Mari bersama memperbaiki amal ibadah kita semoga beroleh keridhoanNya, aamiin.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s